Potang Belimau Tahun Ini, Tak Ada Lagi Bebek Yang Tersakiti

By Redaksi 04 Mei 2019, 05:32:32 WIB Pekanbaru
Potang Belimau Tahun Ini, Tak Ada Lagi Bebek Yang Tersakiti

Pekanbaru - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru, Nurfaisal, menyatakan tidak ada lagi binatang yang disakiti dalam penyelenggaraan “Potang Belimau”, yakni tradisi membersihkan diri sehari sebelum bulan suci Ramadhan yang dalam penyelenggaran sebelumnya diadakan lomba menangkap bebek di sungai.

“Dulu memang ada lomba tangkap bebek dengan dikejar-kejar lagi. Banyak pihak protes, terutama pencinta binatang,” kata Nurfaisal di Pekanbaru, Kamis.

Pemerintah Kota Pekanbaru secara rutin menggelar acara ini sejak 2008 dengan nama “Petang Megang” yang diselenggaran pada sore hari sebelum bulan Ramadhan. Tradisi ini dikemas agar menjadi agenda wisata religi karena itu diadakan juga lomba menangkap bebek, yaitu melepas puluhan binatang itu di sungai untuk ditangkap.

Pada tahun ini acara itu berganti nama jadi Potang Belimau, dan tidak ada lagi lomba mengejar bebek di sungai. “Masyarakat akhirnya sepakat untuk tidak diadakan lagi lomba itu, karena kita mau menyambut bulan puasa, bukan bikin azab. Kita tidak memberikan nilai-nilai tidak baik,” ujarnya.

Tahun ini penyelenggaraan Potang Belimau akan digelar pada hari Minggu, 5 Mei. Penyelenggaraan Potang Belimau merupakan bagian dari pelestarian tradisi Melayu Riau khususnya umat muslim untuk membersihkan diri menyambut bulan suci Ramadhan.

Menurut dia, tradisi mandi belimau selama ini lebih dikenal di daerah Kabupaten Kampar berupa warga turun bersama-sama mandi di sungai menggunakan air bercampur jeruk limau.

“Sebenarnya tidak ada larangan-larangan khusus, biasa saja. Yang penting tutup aurat, jadi ini benar-benar proses benar menyucikan diri, dan jangan ada pacar-pacaran,” ujarnya.

Di Kota Pekanbaru, tradisi ini dikemas dalam acara Potang Belimau yang dipusatkan di tepi Sungai Siak tepat di sebelah peninggalan bersejarah rumah singgah Sultan Siak. Rumah panggung ini kerap disebut juga rumah Tuan Kadi/Qadhi, di Kampung Bandar Kecamatan Senapelan yang merupakan daerah cikal bakal Kota Pekanbaru sekarang.

Karena dikemas dalam balutan pariwisata, Potang Belimau tidak hanya berupa proses mandi-mandi saja. Nurfaisal menjelaskan, rangkaian acara dimulai sejak siang pukul 13.30 WIB dari Masjid Raya Pekanbaru. Di pelataran masjid tersebut terdapat makam Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah dan beberapa keturunan dan pengikutnya. Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah merupakan Sultan ke-4 Kerajaan Siak Sri Indrapura, yang bergelar Marhum Bukit.

Acara dimulai dengan ziarah makam Marhum Bukit, berzikir dan berdoa. Pada penyelenggaraan tahun ini juga akan ada pembacaan sejarah Marhum Bukit dan Kota Pekanbaru oleh perwakilan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau. Hal ini merupakan pengembangan dari acara Potang Belimau tahun sebelumnya.

“Sekarang ini kita buat pembacaan sejarah, sehingga masyarakat Pekanbaru tahu riwayat tentang kota ini,” katanya.

Setelah shalat ashar, tamu-tamu undangan seperti Gubernur Riau, Wali Kota Pekanbaru dan lainnya turun ke tepian sungai. Proses mandi balimau oleh tokoh-tokoh tersebut berupa menyiramkan air balimau ke 20 anak yatim.

Dalam proses ini juga terdapat pembaruan karena apabila sebelumnya, anak-anak yatim setelah dimandikan hanya mendapat hadiah telur ayam, namun kali ini juga mendapat santunan dan seperangkat pakaian dan alat shalat.

Ia menambahkan, pihaknya terus menggali masukan-masukan dari berbagai pihak untuk mengembangkan acara Potang Belimau sebagai agenda rutin wisata religi. Sebabnya, ada potensi kalau acara ini digelar dalam durasi lebih lama dalam sebuah rangkaian, akan bisa menarik banyak wisatawan nusantara dan mancanegara untuk datang. ant




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment