Gloria Tamba, Pengacara Kondang Lebih Suka Membela Masyarakat Miskin

Gloria Tamba, Pengacara Kondang Lebih Suka Membela Masyarakat Miskin

Kasus nenek Rasminah sempat mencuat menjadi isu nasional kala itu. Bahkan, kasus ini sampai naik ke Mahkamah Agung setelah sebelumnya Rasminah divonis bebas murni di Pengadilan Negeri Tangerang.
Gloria Tamba, pengacara di Kantor Hukum Hotma Sitompoel dan LBH Mawar Sharon. Foto: Agaton Kenshanahan/kumparan
Mencuatnya isu Rasminah juga menggaungkan wacana penerapan keadilan restoratif (restorative justice). Menurut Buletin Komisi Yudisial (Januari-Februari, 2012) keadilan ini menekankan pada perbaikan akibat yang disebabkan tindak pidana. Caranya, dengan memberdayakan proses pemulihan dan kepentingan semua yang terlibat baik pelaku dan korban, maupun masyarakat. Tujuannya, agar kasus macam Nenek Rasminah tidak berujung ke pengadilan.
Eman Suparman, Ketua Komisi Yudisial saat itu juga sampai proaktif memantau kasus dan putusan terkait Rasminah.
“Setelah tahu bagaimana pertimbangan-pertimbangan hakim dalam memutus perkara, kami bisa mengetahui seberapa jauh hakim memberi keadilan. Karena masyarakat selama ini sudah resah dengan pemberian putusan pada rakyat kecil,” kata Eman melansir Buletin KY.
Membebaskan orang miskin yang tak bersalah menjadi kepuasan tersendiri bagi Gloria. Dengan itu, ia bisa membantu orang mendapatkan haknya yang ia sendiri tak mampu perjuangkan.
“Kalau orang kaya dia bisa ke kantor pengacara profesional dengan bayar fee. Kalau ini, jangankan menghubungi pengacara, pengacara apa pun itu dia enggak tahu. Kalau kita bukan yang datang ke sana, belum tentu ada yang bantu,” katanya.
1
2
3
4
5
6
CATEGORIES